Pada
dewasa ini, tayangan yang disampaikan oleh media elektronik televisi sangatlah
berpengaruh besar terhadap khalayak luas. Timbulnya Emosional yang hadir dari
para pemirsa merupakan hal yang sangat sering kita lihat dan rasakan saat ini. Sehingga
informasi dan acara yang disuguhkan oleh media televisi sangat berperan besar
dalam merubah watak, perilaku juga sikap bagi penonton atau pemirasanya.
Mengacu
pada teori Kultivasi bahwa media elektronik televisi merupakan media yang
memberikan informasi dengan tayangan audio-visual yang membuat konsumen
menganggap bahwa tayangan tersebut nyata (real).
Sehingga, implementasi yang disampaikan, jika tayangan tersebut mengenai
kejadian kekerasan seperti pembunuhan meski hanya dalam acara sinetron atau
rekayasa sekalipun, pemirsa akan menganggap bahwa hal tersebut merupakan hal
yang nyata dan benar adanya.
Sering
kita lihat di lingkungan masyarakat seperti ibu-ibu bahkan orang tua kita
sendiri yang sangat emosional menonton sebuah tayangan televisi salah satunya
tayangan drama dan sinetron yang membuatnya sangat emosional, seperti marah,
sedih, kecewa bahkan menangis sekalipun.
Padahal tayangan tersebut hanyalah rekayasa, tayangan tersebut hanyalah fiksi
belaka, mereka hanyalah aktor dan aktris yang memainkan peran sesuai arahan dan
cerita untuk program acaranya. Jadi, yang menjadi masalah adalah bagaimana hal
tersebut bisa terjadi?.
Dalam
pemahaman Encoding-Decoding, Representatifnya adalah bahwa komunikator berusaha
menyusun dan merencanakan suatu informasi yang akan diberikan kepada komunikan sehingga
tujuan dari informasi tersebut bisa disampikan dan diterima dengan baik dan
sesuai tujuan komunikator, misalnya ketika seorang sutradara program televisi
yang ingin membuat adegan tersebut membuat penonton menangis. Maka sutradara
harus bisa merencanakan hal tersebut dengan baik dengan dibantu pembuat ide,
audio, visual, pemain yang sesuai dan lain sebagainya, maka adegan tersebut pun
dapat dimengerti dan dipahami oleh penonton. Lalu, penonton akan memahami isi
dari adegan tersebut karena selain isi informasinya, audio-visual yang
mendukung bahkan pemain dalam program televise tersebut yang sangat menjiwai
perannya membuat pemirsa beranggapan bahwa hal tersebut adalah nyata dan tujuan
dari sutradara pun akan sukses sehingga mendapat keuntungan karena hasil dari
pemirsa yang terhipnotis akan tayangan yang menjiwai dari segi emosional.
Sehingga,
dari tulisan ini kita harus mempertimbangkan lagi dan memikirkan kembali bahwa
semua tayangan yang disiarkan oleh media televisi itu tidaklah semua nyata dan
benar. Ada yang nyata seperti tayangan pemberitaan da nada juga yang rekaya
seperti sinetron. Sebagai mahasiswa Jurnalistik kita dituntut untuk mampu
melakukan suatu kajian literasi media sehingga nantinya, kita bisa melakukan
suatu pengamalan kepada masyarakat untuk bisa memberikan pemahaman dan
pengertian bahwa tayangan televisi seperti drama atau sinetron tidaklah nyata,
itu hanya rekayasa belaka seperti informasi dari awal tayangan yang memberikan
informasi bahwa tayangan ini hanya rekayasa belaka dan jangan sampai terbawa
perasaan (baper) supaya menjadi masyarakat yang bijak dalam mengkonsumsi media.
Terimakasih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar