Selasa, 25 Mei 2021

Jangan "Baper" Terhadap Tayangan Televisi

 


Pada dewasa ini, tayangan yang disampaikan oleh media elektronik televisi sangatlah berpengaruh besar terhadap khalayak luas. Timbulnya Emosional yang hadir dari para pemirsa merupakan hal yang sangat sering kita lihat dan rasakan saat ini. Sehingga informasi dan acara yang disuguhkan oleh media televisi sangat berperan besar dalam merubah watak, perilaku juga sikap bagi penonton atau pemirasanya.

Mengacu pada teori Kultivasi bahwa media elektronik televisi merupakan media yang memberikan informasi dengan tayangan audio-visual yang membuat konsumen menganggap bahwa tayangan tersebut nyata (real). Sehingga, implementasi yang disampaikan, jika tayangan tersebut mengenai kejadian kekerasan seperti pembunuhan meski hanya dalam acara sinetron atau rekayasa sekalipun, pemirsa akan menganggap bahwa hal tersebut merupakan hal yang nyata dan benar adanya.

Sering kita lihat di lingkungan masyarakat seperti ibu-ibu bahkan orang tua kita sendiri yang sangat emosional menonton sebuah tayangan televisi salah satunya tayangan drama dan sinetron yang membuatnya sangat emosional, seperti marah, sedih, kecewa bahkan  menangis sekalipun. Padahal tayangan tersebut hanyalah rekayasa, tayangan tersebut hanyalah fiksi belaka, mereka hanyalah aktor dan aktris yang memainkan peran sesuai arahan dan cerita untuk program acaranya. Jadi, yang menjadi masalah adalah bagaimana hal tersebut bisa terjadi?.

Dalam pemahaman Encoding-Decoding, Representatifnya adalah bahwa komunikator berusaha menyusun dan merencanakan suatu informasi yang akan diberikan kepada komunikan sehingga tujuan dari informasi tersebut bisa disampikan dan diterima dengan baik dan sesuai tujuan komunikator, misalnya ketika seorang sutradara program televisi yang ingin membuat adegan tersebut membuat penonton menangis. Maka sutradara harus bisa merencanakan hal tersebut dengan baik dengan dibantu pembuat ide, audio, visual, pemain yang sesuai dan lain sebagainya, maka adegan tersebut pun dapat dimengerti dan dipahami oleh penonton. Lalu, penonton akan memahami isi dari adegan tersebut karena selain isi informasinya, audio-visual yang mendukung bahkan pemain dalam program televise tersebut yang sangat menjiwai perannya membuat pemirsa beranggapan bahwa hal tersebut adalah nyata dan tujuan dari sutradara pun akan sukses sehingga mendapat keuntungan karena hasil dari pemirsa yang terhipnotis akan tayangan yang menjiwai dari segi emosional.

Sehingga, dari tulisan ini kita harus mempertimbangkan lagi dan memikirkan kembali bahwa semua tayangan yang disiarkan oleh media televisi itu tidaklah semua nyata dan benar. Ada yang nyata seperti tayangan pemberitaan da nada juga yang rekaya seperti sinetron. Sebagai mahasiswa Jurnalistik kita dituntut untuk mampu melakukan suatu kajian literasi media sehingga nantinya, kita bisa melakukan suatu pengamalan kepada masyarakat untuk bisa memberikan pemahaman dan pengertian bahwa tayangan televisi seperti drama atau sinetron tidaklah nyata, itu hanya rekayasa belaka seperti informasi dari awal tayangan yang memberikan informasi bahwa tayangan ini hanya rekayasa belaka dan jangan sampai terbawa perasaan (baper) supaya menjadi masyarakat yang bijak dalam mengkonsumsi media. Terimakasih

Tidak ada komentar: