Karya Opini oleh Fawwaz Zulfiqar Aziz
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu mengendalikan dirinya sendiri, termasuk dalam mengontrol sikap dan perilakunya. Pemimpin yang mudah terprovokasi oleh emosi dan selalu mengikuti nafsu, pada akhirnya akan mengalami kekalahan, bukan oleh orang lain, melainkan dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, untuk menghindari perilaku yang negatif, seorang pemimpin harus lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.
Seorang pemimpin yang sering mengeluh tentang tugas-tugas yang dilakukan oleh anggotanya tanpa memberikan arahan dan bimbingan, tidak layak disebut sebagai pemimpin. Apapun hasil tugas yang dikerjakan oleh anggotanya, baik itu memuaskan atau tidak, pemimpin harus tetap bersyukur karena tugas tersebut sudah melalui proses pengerjaan, meskipun hasilnya mungkin kurang optimal. Di dalam perusahaan, jika pendapatan tidak sesuai dengan target, pemimpin harus tetap bersyukur, karena hal ini bisa menjadi dasar untuk evaluasi dan perbaikan di masa mendatang agar target bisa tercapai, bahkan melebihi ekspektasi. Sebaliknya, jika seorang pemimpin terus-menerus mengeluh tentang pendapatan perusahaan, maka perusahaan tersebut kemungkinan besar akan mengalami kemunduran dalam hal motivasi dan visi yang sudah direncanakan sejak awal.
Untuk itu, pemimpin harus sering melatih rasa syukurnya melalui kegiatan spiritual seperti berdoa, meditasi, dan aktivitas lainnya yang berkaitan dengan pengembangan spiritual. Hindari sikap rendah diri, jangan mudah menyerah, dan jangan mengeluh terhadap segala pencapaian yang telah diraih oleh organisasi dan anggotanya.
