Kamis, 10 Juni 2021 │16.00 WIB
Oleh : Fawwaz Zulfiqar Aziz
Joaquin Phoenix memerankan peran sebagai Theodore Twombly dalam film “Her”
Pernahkah
Anda mendengar sebuah informasi terkait seseorang yang mengalami jatuh cinta
kepada seekor hewan, sebuah boneka bahkan tempat bermain sekalipun seperti Roller Coaster? Faktanya, hal tersebut
memanglah ada di dunia ini. Sungguh hal tersebut memang tidak bisa dipungkiri
dan dibantahkan keberadaanya. Terkadang yang namanya cinta, perlahan seseorang akan
kehilangan jati dirinya oleh yang namanya cinta. Bisa dibilang Cinta memang membutakan,
cinta memang juga memabukan dan lagi yang namanya cinta itu memang indah.
Dalam artikel ini saya sedikitnya akan menyampaikan sebuah pengalaman terkait film yang pernah saya tonton kemarin-kemarin dan secara garis besar mengisahkan konsep hipperealitas terhadap pantasi atas kejadian pascamodern, dimana seorang pria yang mengalami jatuh cinta terhadap teknologi canggih yang memiliki kecerdasan buatan layaknya seperti manusia sebut saja teknologinya Operation System (OS), dan inilah film Her.
Her
dalam bahasa Indonesia memiliki arti “dia”, saya mengartikan bahwa judul ini
menunjukan terhadap kecintaan seseorang pria mencintai sesuatu yang mana
bukanlah seorang wanita tetapi dia sebuah teknologi. Her merupakan film drama
fiksi ilmiah romantis berasal di Amerika Serikat yang dirilis pada tanggal 13
Oktober 2013 yang disutradarai dan naskah filmnya juga ditulis oleh orang sama
yaitu Spike Jonze, diproduseri oleh Megan Ellison, Vincent landay dan Spike
Jonze dengan anggran produksi sebesar $23 juta..
Film
satu ini dibintangi oleh aktor dan aktris terkenal, diantaranya Joaquin Phoenix
yang berperan sebagai tokoh utama dalam film ini memerankan Theodore Twombly.
Selain itu kita mengetahui dia adalah seorang aktor yang dua tahun kemarin
memerankan perannya sebagai Arthur alias Joker dalam film Joker pada tahun 2019
dan memenangkan piala bergengsi Oscar sebagai best actor pada film itu, lalu aktris cantik dan seksi Scarlett
Johansson yang berperan sebagai pengisi suara Samantha, lalu Amy Adams sebagai
Amy teman SMU Tehodore, Rooney Mara sebagai Catherine klusesen mantan istri
Theodore, Chriss Pratt sebagai Paul teman kerja Theodore dan pemeran-pemaran
yang lainnya.
Film
berkisah dimulai dari seorang pria cukup tua bernama Theodore yang memiliki
pekerjaan sebagai penulis surat kepada orang lain yang membutuhkan jasanya.
Dalam film ini juga teknologi sudah memulai babak baru atau bisa dibilang pascamodern
dan canggih, dimana Theodore dalam bekerja tidak menggunakan keyboard apalagi pena, melainkan dengan
suaranya sendiri, sehingga dengan otomatis dalam menulis dan mengirim sendiri
hasil surat buatanya. Teman kerjanya
Paul yang sangat mendukung dan menyukai hasil kerja dari Theodore, bahkan bisa
dilihat dari awal sampai akhir film, Paul merupakan teman yang sangat peduli
dan mengerti kepada Theodore.
Setiap
hari Theodore menjalani kehidupannya dengan monoton dan biasa-biasa saja, tidak
ada hal yang menarik dihidupnya. Kesehariannya mulai dari bekerja, bermain
game, masak dan makan dilakukannya sendiri. Ada momen flashback dimana Theodore merindukan dan mengingat kenangan bersama
mantan istrinya Catherine. Sebagai bentuk pelampiasan atas rasa rindunya dengan
sang mantan, Theodore mencari seorang wanita untuk melakukan fantasi dan
halusinasi dengannya meski hanya berbentuk suara dan terkesan verbal, Theodore
menikmatinya meski sedikit ada rasa kebingungan.
Saat
akan berjalan menuju tempanya bekerja Theodore menemukan sebuah iklan yaitu
teknologi Operation System 1 (OS 1). Tanpa berlama-lama Theodore mendapatkannya
dan membaca sedikit petunjuk penggunaanya. Setelah teknologi diaktifkan Theodre
memilih fitur wanita untuk dijadikannya layaknya asisten dalam menjalani kehidupan,
dengan nama Samantha. Awalnya Theodore merasa kebingungan kepada Samantha yang
mengetahui segalanya tentang Theodre, bahkan dengan gayanya bicara tentu
Samantha mengetahui kalau Theodore sedang ada masalah seperti sedih.
Singkatnya,
hari-hari Theodore dihabiskan waktu bersama Samantha mulai dari membantunya
dalam membacakan E-Mail yang masuk,
membantu mengoreksi tulisan suratnya, membantunya dalam menyelesaikan tantangan
video game bahkan menghibur Theodore dengan memperkenalkannya dengan seorang
wanita untuk dijadikannya teman kencan. Meski Theodore selalu teringat
momen-momenya bersama Catherine mantan istri Theodore, tapi Samantha selalu
menyemangatinya untuk tidak bersedih dan putus asa.
Salah satu momen yang menarik ketika
Samantha mengajaknya untuk keluar dengan membangunkan Theodore yang sedang
sedih sembari tiduran, mereka pergi ke sebuah pasar malam, dimana Theodore dan
Samanthaseperti pasanga laki-laki dan perempuan yang sedang dimabuk asmara,
meski bermodalkan alat pendengar dan alat seperti buku yang tersimpan kamera
layaknya video call disana mereka menikmati momen indah tersebut.
Berlajut dengan Amy, teman SMUnya
Theodore bahkan Amy ini pernah menjadi mantan dari Theodore, juga menggunakan
OS sebagai teman yang menghiburnya, karena suaminya Charles pergi meninggalkan
Amy. Mungkin karena kesepian, Amy menggunakan jasa OS untuk menemaninya. Bahkan
tak jarang Theodore dan Amy, menceritakan pengalamannya bersama dengan OS.
Theodore yang semakin hari terus ditemani dengan Samantha, membuatnya sadar
bahwa baginya kehidupan nyata tidak semuanya menyenangkan, kegagalan asmara
yang dilakukannya dengan Catherine membuat Theodore memilih berfantasi dan
berhalusinasi dengan Samantha dengan bahasa verbal, itu semua dilakukan atas
dasar suka sama suka, baik Theodore maupun Samantha.
Namanya juga sudah dimabuk cinta, tentu
ada permasalahan-permasalahan. Dimana Theodore maupun Samantha merasakan
kecemburuan, jika Theodore dekat dengan Amy dan Samantha dengan pengguna yang
lain atau dengan teknologi yang lain. Hingga pada akhirnya Theodore menyadari
bahwa Samantha tidak hanya berkomunikasi dengan Theodore saja ada sebanyak
8.316 orang yang menggunakan jasanya dan sebanyak 641 orang dicintai oleh
Samantha. Bahkan ungkapan yang membuat Theodore makin sadar adalah “Aku
milikmu, dan bukan milikmu”. Satu sisi Samantha memang dimiliki oleh Theodore,
tapi satu sisi juga Samantha juga dimiliki oleh orang lain.
Semakin sadar Theodore akan realitas
kehidupan membuatnya membuat surat permintaan maaf kepada mantan istrinya dan
berbarengan dengan perpisahan yang sangat menyentuh dengan Samantha karena
teknologi OS akan dinonaktifkan, meski belum tahu penyebabnya. Baik Theodore
atau Amy akhirnya mereka sedih dan pergi ke atas gedung apartemen yang sama
mereka tinggali untuk merenung akan kehilangan seseorang yang dicintainya.
Yaitu sebuah teknologi.
Film yang satu ini merupakan film yang
sangat sukses baik dihati penonton, riview positif kritikus film dan dalam segi
pendapatan. Bahkan dinominasikan diajang piala Oscar. Total pendapatan yang
dihasilkan mencapai $47.351.251, tentu melebihi anggaran produksinya.
Menurut pandangan saya pribadi secara
rinci film ini menghadirkan beberapa genre dalam film, mengenai kemajuan
teknologi, romantis, pertemanan, drama dan lain-sebagainya. Konsep yang
disuguhkan dalam film ini adalah terkait konsep hiperrealitas, dimana Theodore
yang menganggap Samantha atau teknologi OS nya adalah seseorang yang nyata
dikehidupannya sehingga membuat dia larut akan kesedihannya saat berpisah. Bisa
dilihat juga sebenarnya, bukan hanya Theodore dan Amy, bahkan warga setkitarpun
menggunkan jasa OS untuk menjalani kehidupan.
Dari perkembangan zaman yang modern ini,
dunia layaknya dibagi menjadi dua. Ada dunia dimana kita sekarang hidup, makan,
minum dan lain sebagainya dan dunia ketika kita sendiri misalnya dengan menonton
gadget kita. Seakan ketika kita membuka gadget/gawai teknologi yang kita
miliki, kita membuka dunia baru disana. Layaknya film Ready Player One, dimana itu menggunakan teknologi Virtual Reality
(VR), sedangkan dengan film ini menggunakan audio saja dalam berkomunikasi dan
membuka dunianya yang kedua.
Konsep Hiperrealitas yang paling
mencolok adalah adegan dewasa yang dimainkan dengan verbal menggunakan ucapan
bahasa, membuat hal tersebut bisa tergambar bahwa fisiknya tidak ada tapi
kenyataannya dalam berfantasi dan berhalusinasi dengan sebuah teknologi layaknya
ada. Ini yang membuat konsep hipperrealitas masuk dalam adegan seperti ini.
Theoder lebih memilih dan membuktikan bahwa Samantha merupakan pasangannya
kepada orang lain, yang membuat mantan istrinya marah akibat Theodore tidak
menerima kenyataan. Bahkan dihadapkan dengan teman kencan dan wanita sungguhan,
Theodore lebih memilih Samantha untuk dijadikan teman dan pasangannya.
Pengalaman yang saya ketahui dan alami
terkait hal ini adalah kita menyadari bahwa dunia ini sudah mulai memasuki era
baru dalam budaya dan kehidupan media khususnya kehidupan sosial. Ramai belum
tentu ramai, sepi belum tentu sepi ,Ramai bisa jadi sepi, sepi bisa jadi ramai.
Kita hidup di dunia ini dihuni dengan
beberapa juta orang, tapi apakah kita mengenal satu persatu orang tersebut,
tentu saja tidak. Bahkan dengan lingkungan sekitar pun kita tidak sepenuhnya tahu
siapa dia sebenarnya. Tapi coba lihat di media sosial, baik yang dekat ataupun
yang jauh kita mengetahui segalanya, kita mengetahui namanya, kesukaannya,
wajahnya, tanggal lahirnya dan yang lainnya. Sehingga dari kecanduan akan
teknologi membuat dunia ini memanglah seperti itu, mengganggap dunia yang tidak
nyata dianggap nyata bahkan lebih nyata dari kehidupan aslinya dan ini
memunculkan budaya yang baru dalam media.
Contoh yang pernah alami adalah ketika saya
kenal dengan lawan jenis saya yaitu wanita, tanpa harus kenalan dan bertemu
lebih dulu kita akan mengetahuinya melalui yang namanya teknologi media sosial.
Kita mengobrol, menelepon, berbagi cerita melalui daring akan membuatnya
semakin dekat dan saling mengenalinya satu sama lain, hingga akhirnya larut
akan namanya cinta dan kasih sayang, ini pun pernah terjadi sampai saat ini.
Sehingga Film Her mewakili saya pribadi
bahwa Theodore yang kesepian memiliki jalannya untuk tidak kesepian dengan
menerima realitas hidup bahwa teknologi sendirilah dengan nama Samantha dapat
menemani dan membantunya dalam menjalani realitas kehidupan.
Terimakasih.
