Pers Sebagai “Senter” Kehidupan
Bagi Masyarakat
OLEH FAWWAZ ZULFIQAR AZIZ
(24071118089)
Berita yang dihasilkan pers dan
memiliki nilai yang sangat bermanfaat dan berguna, dapat menerangi masyarakat
kepada kehidupan yang lebih baik layaknya sebuah senter.
Kehadiran pers sebagai kunci dari suatu gerbang informasi membuatnya memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bersosial. Pasalnya, dalam menjalani dan menjalankan kehidupan, masyarakat tidak lepas dan butuh dengan adanya informasi salah satunya adalah berita.
Dianggap
kekuatan keempat dan sebagai garda
terdepan dalam hal informasi, pers dituntut dan mampu untuk bertanggung jawab
dalam mencari, mengumpulkan, menganalisis dan menyebarkan informasi kepada
khalayak luas. Sehingga informasi yang dihasilkan dapat dipertanggung jawabkan
baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Menurut
Newcomb (1985: 119) perubahan sikap suatu masyarakat umumnya dipengaruhi oleh
adanya informasi baru yang diterimanya, yang relevan dengan tuntutan
kondisional: kapan dan di mana informasi baru itu diterima.
Pers
tidak hanya memberikan informasi dan hiburan semata saja kepada khalayak, pers
juga harus bisa menjadi kontrol sosial yang baik bagi khalayak. Lantas, kontrol
sosial seperti apa yang harus dimiliki oleh seorang pers? Bagaimana pers
menjadi pengontrol sosial yang baik? Dan kenapa pers harus menjadi pengontrol
sosial yang baik bagi masyarakat?.
Hal
yang menjadi dasar terkait kontrol sosial yang harus dimiliki pers adalah
informasi yang disampaikan dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah dari orang
menerima informasi tersebut. Layaknya seperti profesi guru di sekolah yang
memberikan ilmu, wawasan, pengetahuan dan materi yang disampaikan kepada siswa siswinya
yang membuatnya memiliki pemahaman akan materi yang disampaikan.
Dari
contoh diatas pers memiliki kesamaan, yang mana pers juga menyampaikan
informasi, pengetahuan dan wawasan meski menggunakan sebuah media dan tidak langsung
tetapi yang menerima informasi tersebut sangatlah luas dan beragam, bukan hanya
siswa, mahasiswa, guru yang menerimanya, bahkan elit politik dan pejabat
sekalipun pun tentu menerimanya.
Terkait
hal diatas, pers tentu memiliki kesamaan dengan guru yang memberikan informasi.
Namun, yang menjadi pembeda selain penerima adalah isi dari informasi tersebut.
Pers hanya memberikan informasi yang dikatakan berita yang mengandung makna
faktual dan aktual, sedangkan guru memberikan informasi terkait ilmu pembelajaran
dan pemahaman.
Namun,
guru memiliki nilai lebih karena guru merupakan tenaga pendidik, yang mana
membuat penerimanya atau siswa menjadi terdidik dan memiliki moral dan etika
yang baik pula, kalaupun guru tersebut berhasil mendidik siswanya ke arah yang
lebih baik. Bahkan terkait hal ini, pers sendiri perlu dibekali dengan ilmunya
dalam melaksanakan kegiatan jurnalistik dan perlu juga memiliki seorang guru
untuk mendapat bekal dalam ilmu kejurnalistikannya.
Sebenarnya,
pers juga mampu memiliki peran yang sama dengan guru yaitu memberikan informasi
pengetahuan dan pemahaman yang sifatnya mengedukasi dan dapat mengubah pola
pikir masyarakat dari awalnya tidak tahu menjadi tahu dan mengubah perilakunya
ke arah yang lebih baik. Namun, secara pribadi pers saat ini belum mampu
melakukan hal tersebut.
Perlu
digaris bawahi bahwa informasi buruk yang beredar ditengah masyarakat harus
dapat dijernihkan oleh pers. Tapi yang ada pers hanya membuatnya makin keruh
dan membuatnya makin panas. Bahkan dengan kepintarannya, pers mampu menambahkan
kesan dramatis dari sebuah masalah.
Ungkapan
Bad News Is A good News, membuat berita yang buruk di tengah masyarakat dijadikan
kesempatan oleh perusahaan pers untuk dijadikan berita yang menarik untuk
disampaikan kepada khalayak.
Kehadiran
isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA), yang membuat terjadinya konflik
dan masalah di masyarakat tersebut dijadikan pers sebagai berita untuk terus
dikembangkan, bukan untuk diselesaikan dan diredam, yang ada malah dibuatnya
makin panas dengan suguhan-suguhan berita yang layaknya membuat kedua belah
pihak makin terus berseteru.
Bukan
hanya isu SARA saja, di Indonesia hal yang menjadi masalah dan konflik
berkepanjangan adalah masalah politik. Apalagi saat tahun politik dimulai,
bukan hanya partai politik saja yang berseteru, pers dan media pun ikut
meramaikan panggung politik tersebut. Seakan tergiur akan kekuasaan dan tergiur
akan harta sementara, membuat masalah yang terjadi tidak akan ada habisnya dan
tidak ada penyelesaiannya.
Begitu
besarnya dampak yang dihasilkan pers dalam menyebarkan informasi kepada
masyarakat sehingga masyarakat pun bingung dan gelisah harus berpegang pada media
informasi yang mana. Agar suasana yang terjadi dapat dikatakan damai dan
tentram.
Betul,
pers memegang teguh Kode Etik Jurnalistik (KEJ) terkait berita yang dihasilkan
harus memiliki makna faktual dan aktual. Tetapi sadarkah kita, jika kita adalah
seorang pers yang egois memikirkan diri kita sendiri dan keinginan perusahaan media,
apakah tidak membuat sakit hati masyarakat diluar sana yang menerimanya.
Berfokus supaya judul yang menarik dapat di klik atau istilah click bait dan dapat membuat berita
tersebut dikunjungi tanpa memperhatikan isi dari berita tersebut.
Ini
semua terjadi karena persaingan yang sangat besar membuat pers melenceng dari Kaidah
Jurnalistik dan Kode etik Jurnalistik yang harusnya kedua hal tersebut menjadi
pedoman dan pegangan bagi tiap perusahaan media dan pers bukan tahu dan paham
saja tapi harus bisa diimplementasikan dan diamalkan dalam melakukan
kegiatannya di bidang jurnalistik.
Pers
layaknya sebuah senter bagi masyarakat, pers harus memberikan informasi yang
baik bagi masyarakat, ini membuat masyarakat yang menerimanya baik itu yang membaca,
menonton dan mendengarkan mendapatkan edukasi dan pemahaman dari berita
tersebut. Ketika masyarakat kehilangan dan tersesat akan informasi yang banyak,
pers berperan menunjukan jalan dan meneranginya dengan informasi yang benar dan
asli dari sumbernya. Bisa dikatakan pers sebagai penangkal hoax dan mitos yang beredar di tengah masyarakat.
Berita
yang baik selain mengandung nilai berita yang sesuai, diperhatikan juga dari
dari tata bahasa, ejaan, kalimat yang jelas, mudah dimengerti dari isi dan
makna yang disampaikan. Sehingga berita tersebut mampu menyadarkan, memberikan
pemahaman dan pengetahuan kepada masyarakat. Selain itu, adanya simbiosis
mutualisme yang menguntungkan antara pers dan masyarakat supaya kehidupan
masyarakat nantinya akan lebih baik lagi dari sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar