Selasa, 08 Juni 2021

Pers Sebagai “Senter” Kehidupan Bagi Masyarakat

 

Pers Sebagai “Senter” Kehidupan Bagi Masyarakat

OLEH FAWWAZ ZULFIQAR AZIZ (24071118089)

Berita yang dihasilkan pers dan memiliki nilai yang sangat bermanfaat dan berguna, dapat menerangi masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik layaknya sebuah senter.

 

 

Kehadiran pers sebagai kunci dari suatu gerbang informasi membuatnya memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bersosial. Pasalnya, dalam menjalani dan menjalankan kehidupan, masyarakat tidak lepas dan butuh dengan adanya informasi salah satunya adalah berita.

Dianggap kekuatan keempat  dan sebagai garda terdepan dalam hal informasi, pers dituntut dan mampu untuk bertanggung jawab dalam mencari, mengumpulkan, menganalisis dan menyebarkan informasi kepada khalayak luas. Sehingga informasi yang dihasilkan dapat dipertanggung jawabkan baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Menurut Newcomb (1985: 119) perubahan sikap suatu masyarakat umumnya dipengaruhi oleh adanya informasi baru yang diterimanya, yang relevan dengan tuntutan kondisional: kapan dan di mana informasi baru itu diterima.

Pers tidak hanya memberikan informasi dan hiburan semata saja kepada khalayak, pers juga harus bisa menjadi kontrol sosial yang baik bagi khalayak. Lantas, kontrol sosial seperti apa yang harus dimiliki oleh seorang pers? Bagaimana pers menjadi pengontrol sosial yang baik? Dan kenapa pers harus menjadi pengontrol sosial yang baik bagi masyarakat?.

Hal yang menjadi dasar terkait kontrol sosial yang harus dimiliki pers adalah informasi yang disampaikan dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah dari orang menerima informasi tersebut. Layaknya seperti profesi guru di sekolah yang memberikan ilmu, wawasan, pengetahuan dan materi yang disampaikan kepada siswa siswinya yang membuatnya memiliki pemahaman akan materi yang disampaikan.

Dari contoh diatas pers memiliki kesamaan, yang mana pers juga menyampaikan informasi, pengetahuan dan wawasan meski menggunakan sebuah media dan tidak langsung tetapi yang menerima informasi tersebut sangatlah luas dan beragam, bukan hanya siswa, mahasiswa, guru yang menerimanya, bahkan elit politik dan pejabat sekalipun pun tentu menerimanya.

Terkait hal diatas, pers tentu memiliki kesamaan dengan guru yang memberikan informasi. Namun, yang menjadi pembeda selain penerima adalah isi dari informasi tersebut. Pers hanya memberikan informasi yang dikatakan berita yang mengandung makna faktual dan aktual, sedangkan guru memberikan informasi terkait ilmu pembelajaran dan pemahaman.

Namun, guru memiliki nilai lebih karena guru merupakan tenaga pendidik, yang mana membuat penerimanya atau siswa menjadi terdidik dan memiliki moral dan etika yang baik pula, kalaupun guru tersebut berhasil mendidik siswanya ke arah yang lebih baik. Bahkan terkait hal ini, pers sendiri perlu dibekali dengan ilmunya dalam melaksanakan kegiatan jurnalistik dan perlu juga memiliki seorang guru untuk mendapat bekal dalam ilmu kejurnalistikannya.

Sebenarnya, pers juga mampu memiliki peran yang sama dengan guru yaitu memberikan informasi pengetahuan dan pemahaman yang sifatnya mengedukasi dan dapat mengubah pola pikir masyarakat dari awalnya tidak tahu menjadi tahu dan mengubah perilakunya ke arah yang lebih baik. Namun, secara pribadi pers saat ini belum mampu melakukan hal tersebut.

Perlu digaris bawahi bahwa informasi buruk yang beredar ditengah masyarakat harus dapat dijernihkan oleh pers. Tapi yang ada pers hanya membuatnya makin keruh dan membuatnya makin panas. Bahkan dengan kepintarannya, pers mampu menambahkan kesan dramatis dari sebuah masalah.

Ungkapan Bad News Is A good News, membuat berita yang buruk di tengah masyarakat dijadikan kesempatan oleh perusahaan pers untuk dijadikan berita yang menarik untuk disampaikan kepada khalayak.

Kehadiran isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA), yang membuat terjadinya konflik dan masalah di masyarakat tersebut dijadikan pers sebagai berita untuk terus dikembangkan, bukan untuk diselesaikan dan diredam, yang ada malah dibuatnya makin panas dengan suguhan-suguhan berita yang layaknya membuat kedua belah pihak makin terus berseteru.

Bukan hanya isu SARA saja, di Indonesia hal yang menjadi masalah dan konflik berkepanjangan adalah masalah politik. Apalagi saat tahun politik dimulai, bukan hanya partai politik saja yang berseteru, pers dan media pun ikut meramaikan panggung politik tersebut. Seakan tergiur akan kekuasaan dan tergiur akan harta sementara, membuat masalah yang terjadi tidak akan ada habisnya dan tidak ada penyelesaiannya.

Begitu besarnya dampak yang dihasilkan pers dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat sehingga masyarakat pun bingung dan gelisah harus berpegang pada media informasi yang mana. Agar suasana yang terjadi dapat dikatakan damai dan tentram.

Betul, pers memegang teguh Kode Etik Jurnalistik (KEJ) terkait berita yang dihasilkan harus memiliki makna faktual dan aktual. Tetapi sadarkah kita, jika kita adalah seorang pers yang egois memikirkan diri kita sendiri dan keinginan perusahaan media, apakah tidak membuat sakit hati masyarakat diluar sana yang menerimanya. Berfokus supaya judul yang menarik dapat di klik atau istilah click bait dan dapat membuat berita tersebut dikunjungi tanpa memperhatikan isi dari berita tersebut.

Ini semua terjadi karena persaingan yang sangat besar membuat pers melenceng dari Kaidah Jurnalistik dan Kode etik Jurnalistik yang harusnya kedua hal tersebut menjadi pedoman dan pegangan bagi tiap perusahaan media dan pers bukan tahu dan paham saja tapi harus bisa diimplementasikan dan diamalkan dalam melakukan kegiatannya di bidang jurnalistik.

Pers layaknya sebuah senter bagi masyarakat, pers harus memberikan informasi yang baik bagi masyarakat, ini membuat masyarakat yang menerimanya baik itu yang membaca, menonton dan mendengarkan mendapatkan edukasi dan pemahaman dari berita tersebut. Ketika masyarakat kehilangan dan tersesat akan informasi yang banyak, pers berperan menunjukan jalan dan meneranginya dengan informasi yang benar dan asli dari sumbernya. Bisa dikatakan pers sebagai penangkal hoax dan mitos yang beredar di tengah masyarakat.

Berita yang baik selain mengandung nilai berita yang sesuai, diperhatikan juga dari dari tata bahasa, ejaan, kalimat yang jelas, mudah dimengerti dari isi dan makna yang disampaikan. Sehingga berita tersebut mampu menyadarkan, memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada masyarakat. Selain itu, adanya simbiosis mutualisme yang menguntungkan antara pers dan masyarakat supaya kehidupan masyarakat nantinya akan lebih baik lagi dari sebelumnya.

 Penulis    : Fawwaz Zulfiqar Aziz

Editor       : Uwwaz 

  INDEKS : Pers, Senter, Informasi, Kontrol Sosial, Masyarakat

 

 

Tidak ada komentar: