Prakata Penulis
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan feature perjalanan wisata ini. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan feature ini dengan baik. Shalawat beserta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Habibana Wanabiyana Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur
kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik
maupun akal pikiran, sehingga feature perjalanan wisata yang berjudul
“Eksotisnya Hutan Mati Gunung
Papandayan ” ini mampu untuk di
selesaikan. Feature ini bertujuan memberikan sebuah pengalaman berwisata ke
salah satu objek wisata di Kabupaten Garut yang berada di Kecamatan Cisurupan
dan menjalani tempat wisata yaitu Hutan Mati Gunung papandayan. Kami juga megucapkan banyak-banyak
terima kasih kepada dosen Jurnalisme Sastra pa Feri Purnama M.Sos., yang
telah memberikan materi dan pemahaman
mengenai
Jurnalisme Sastra dalam
pembahasan saat kuliah maupun di luar jam kuliah . Selain itu, terimakasih pula
kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penulisan feature sederhana ini.
Penulis tentu menyadari bahwa feature ini
masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta
kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari
pembaca , supaya feature nantinya dapat menjadi feature yang lebih baik lagi.
Demikian, semoga feature ini dapat bermanfaat dan berguna. Terima kasih.
Penulis
Fawwaz Zulfiqar Aziz
Eksotisnya Hutan Mati Gunung Papandayan
Namanya memanglah seram dan kelam Hutan Mati. Namun, dari
namanya yang seram bak alam yang tersembunyi mistis terdapat suguhan pesona
yang indah memberikan kesan begitu eksotis. Hembusan angin dingin menyelimuti,
gerimis air hujan membasahi ditengah ribuan pohon yang tinggi.
Dua kesan menjadi satu antara indah dan sunyi. Menatap
langit yang begitu tebal dan awan kelabu, menatap tanah yang putih layaknya
pasir di pantai dan aroma kawah yang khas menusuk penciuman . Itulah perjalanan
menuju Hutan Mati yang begitu epik.
Jika dunia
fantasi itu hadir dibumi ini, maka Hutan Mati adalah bagiannya. Suguhan alam
indah yang terus menyambut dan menemani, bukanlah rekayasa bukanlah settingan
ini adalah Takdir yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk hamba Nya agar
selalu mensyukuri ciptaan-Nya.
Inilah Hutan Mati Gunung Papandayan, meski mati hutannya
tapi hidup namanya akan rasa syukur yang terus dipanjatkan.
Empat Pemuda Bersama Liburan Dadakannya.
Tak terasa libur sekolah telah usai dan hati berkata “Kamu
belum puas menikmati liburan perlu adanya sebuah klimaks sehingga liburan
sekolah ini begitu epik dan menyenangkan”. Ternyata bukan hanya hati saya yang
berkata begitu tapi hati sahabat saya pun mengatakan seperti itu.
Kami adalah empat pemuda yang mengisi waktu libur sekolah
bersama. Pertama, Yoesma seorang pemuda yang kaya dan manja. Kedua, Wisnu
seorang pemuda yang tinggal dikos dekat sekolah. Asal rumahnya dari Pamengpeuk
atau biasa disebut Garut Selatan memiliki perawakan tinggi dan tegap, maklumlah
rumah dekat dengan pantai sehingga tak jarang setiap hari bisa renang. Ketiga,
Zam zam seorang pemuda yang memiliki tubuh yang kurang tinggi. Keempat, saya
sendiri Fawwaz memiliki tubuh kecil namun diantara yang lain sayalah yang
paling tinggi. Kami berempat sering dipanggil pemuda bukan anak anak karena
semangat kami sama dengan pemuda yang haus akan sebuah tantangan dan
petualangan.
Suara ayam berkokok
di pagi yang cerah di hari Minggu, saya menghangatkan motor beranjak akan pergi
dari rumah untuk bertemu teman.
“Waz, bade kamana
enjing keneh atos ngahaneutan motor?”
kalau dalam bahasa Indonesia (Waz, mau kemana pagi hari sudah
menghangatkan motor). Ucap Ayah sambil bingung.
“Bade ka
bumi Yoesma” (mau ke rumah Yoesma). Jawab saya sembari menghidupkan motor.
“Muhun, kade dijalanna” (Oke, hati-hati dijalannya). Ucap ayah sambil
melanjutkan minum kopi di teras rumah. Saya pun berangkat ke rumah Yoesma
dengan menaiki sepeda motor dan tak lupa mengucapkan salam agar diberikan
keselamatan selama diperjalanan.
Sesampainya di rumah
Yoesma, saya memparkirkan motor dihalaman depan dan beranjak mengetuk pintu
sembari mengucapkan salam. Tok tok tok (Suara ketukan pintu)
“Assalamu’alaikum Yoesma”
Akhirnya pintu terbuka, dan yang membuka bukanlah Yoesma
atau keluarga yang lain.
Ternyata yang membuka pintu adalah Wisnu.
“Waalaikum Salam warrahmatullahi wabarakatu “Jawab
wisnu
Saya pun terheran dengan keberadaan Wisnu yang keluar
membukakan pintu rumah Yoesma.
“Walah, naha aya Wisnu?” (Walah, kenapa ada Wisnu?) Ujar
saya sambil terheran.
“Kamari weungi Waz, abdi
diajakan ku Yoesma mondok, kumargi Yoesma teu aya batur kanggo maen PS,
Barinage di kost wae mah bete” (Kemarin malam Waz, saya diajak oleh Yoesma
menginap, soalnya Yoesma tidak ada teman untuk main PS, lagipula kalau di kost
terus bete ).
Jawab Wisnu menjelaskan alasannya menginap.
“Oh kitu, Yoesma na dimana?”(Oh gitu, Yoesma nya dimana?)
Ucap saya kepada Wisnu sambil melepas
sandal.
“Yoesma masih bobo, maklum kamari weungi begadang maen PS,
manga kalebet” (Yoesma masih tidur,
maklum kemarin malam begadang main PS, silahkan masuk) Jawab Wisnu sambil
membukakan pintu kepada saya.
Pada hari itu keluarga Yoesma seperti ayah dan ibunya tidak
sedang ada dirumah. Meraka sedang mengunjungi kerabatnya diluar. Jadi hanya ada
Yoesma didalam rumah bersama Wisnu.
Saya pun masuk ke
kamar Yoesma dan
membangunkannya.
‘Yoesma, gugah atos siang “(Yoesma, bangun sudah siang)”
Ucap saya sambil berteriak agar Yoesma bangun.
“Eummm” Jawab Yoesma hanya bergumam seperti suara badak.
“Ongkoh hoyong liburan, soalna enjing atos masuk sakola
deui” (Katanya mau liburan, soalnya besok sudah masuk sekolah lagi). Ujar saya
sambil membujuknya bangun.
Yoesma pun seketika bangun dengan cepat dan mengatakan.
“Hayu atuh liburan bete yeuh” (Ayo liburan, bete nih). Jawab
Yoesma dengan semangat meski masih ada kotoran dipinggir matanya dan rambut
yang acak-acakan seperti singa.
“Gera ka cai hela tamas, ngarah seger” (Cepat ke kamar mandi
dulu, cuci muka dulu biar segar” Ujar Wisnu dari belakang saya.
Setelah Yoesma mencuci mukanya, kami mengobrol dan saling
bertukar pengalaman mengenai liburan sekolah. Kami bertiga adalah teman satu
kelas. Jadi sudah akrab meski baru 1 semeter juga. Tak terasa liburan pun akan
usai dan besok masuk sekolah lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk liburan
bersama dan menjadikannya penutup untuk liburan sekolah selama 2 Minggu.
Ini bisa dibilang liburan
dadakan karena tanpa adanya rencana sebelumnya. Namun, jika liburan ini hanya
bertiga rasanya akan kurang, karena akan ada 1 oramg yang membonceng dengan
angina atau jok belakang motor nya kosong apakah milik saya atau Yoesma.
Hingga Yoesma mengajak temannya melalui telepon.
“Asslamualaikum” Ucap Yoesma kepada Zam zam melalui
telepon.
“Waalaikum Salam warrahmatullahi wabarakatu, Kumaha Yus aya
periyogi naon nganelpon? (Gimana yus, ada keperluan apa menelpon?) Jawab Zam
zam dalam telepon.
“Jadi kieu, kan enjing teh atos masuk deui sakola, kumaha
lamun urang ayeuna liburan terakhir kaburu otak kudu diasah deui, setidaknya
arurang refreshing hela lah “(Jadi begini, besok tuh sudah masuk sekolah lagi,
gimana jika sekarang liburan terakhir keburu besok otak harus diasah lagi,
setidaknya kita refreshing dulu lah” Ujar Yoesma membujuk Zam zam supaya bisa
ikut.
“Oh hayu. Tapi kumaha nya, abdi mah bakal moal tiasa nyandak
motor, soalna bakal dianggo ku teteh. Emang sareng saha wae liburana?” (Oh ayo.
Tapi gimana yah, saya gak akan bawa motor, soalnya akan dipakai sama kaka,
emannya sama siapa saja liburannya?). Jawab Zam zam sembari kebingungan.
“Tenang zam, wios dibonceng
weh. Liburanna aya Abdi, Fawwaz, Wisnu sareng Zam zam weh hiji deui “(tenang
zam, gapapa dibonceng saja, liburannya ada saya,
Fawwaz, Wisnu dan Zam zam satu lagi.” Jawab Yoesma sambil
memegang handphone dan mondar mandir.
“Oh siap, jemput” Ujar Zam zam yang bersemangat.
“Oke, ke dikabaran, Assalamualaikum” Ucap Yoesma
“Waalaikum Salam warrahmatullahi wabarakatu” Jawab Zam
zam.
Akhirnya Zam
zam pun ikut bergabung bersama kami untuk liburan.
Mentari semakin lama
semakin menyinari, terangnya membuat kami berfikir bahwa liburan ini akan
menjadi liburan yang menyenagkan dan akan membuat klimaks terbaik sebagai
penutup liburan diawal semester.
Saya pun bergegas pulang kembali kerumah untuk mempersiapkan
liburan, meski tidak tahu akan pergi kemana yang jelas difikiran saya adalah
hari ini libur, hari ini harus menyenangkan dan bagaimana caranya liburan ini
harus membuat hati puas. Sesampainya dirumah, ternyata rumah sepi tidak ada
siapa siapa. “Sunyi sekali”. Ucap saya, tapi bodo amat saya harus mandi dan
bergegas untuk mencari pakaian yang akan digunakan untuk liburan.
Tapi saya hanya focus pada penampilan, hingga saya tak
menyadari bahwa saya tak punya uang untuk liburan. Disana saya bingung dan
harus bagaimana, akhirmya saya menunggu ayah pulang dari kerja sambil mandi dan
mempersiapkan yang lain sebagainya.
Hampir 2 jam saya menunggu, mentari sudah hampir ditengah
dan kami janjian untuk berangkat pada siang hari dan kumpul di rumah Yoesma,
selepas waktu pertama Dzuhur. Kumandang Adzan terdengar tatapi ayah tidak
kunjung pulang, akhirnya saya sholat dulu, semoga saja setelah beres Sholat
ayah sudah pulang. Tinggal beberapa menit lagi berangkat tapi ayah masih saja
belum pulang, Saya pun pergi tanpa membawa uang sepeser pun untuk liburan, dan
berharap Yoesma bisa meminjamkan uangnya kepada saya.
Saat diperjalanan menuju ke rumah Yoesma, saya pun bertemu
dengan ayah yang sedang mengendarai motor.
Saya pun berteriak “Yahhhh, eureun helaaaa” (Yahhhhh,
berhenti dulu).
Ayah pun menghentikan motornya dan menjawab “Aya naon Waz,
gogorowokan di jalan?” (Ada apa Waz, teriak teriak dijalan)
“Nyungken artos, abdi ayena bade liburan”. (Minta uang, saya
sekarang mau liburan) Ujar saya sambil mengangkat tangan layaknya
pengemis.
“Liburan
kamana?” (Liburan kemana?) Tanya ayah saya yang bingung.
“Teu apal nu penting mah liburan” (Tidak tahu yang penting
liburan) Jawab saya yang sama bingung tapi yang rusuh takut telat.
“Yeuh gaduh 20 rebu, sok sing awet” Ujar ayah saya sambil
memberikan uang.
“Hatur nuhun. Abdi mios hela, Assalamualaikum” (Terimakasih.
Saya berangkat dulu, Assalamualaikum) Ujar saya sambil menerima uang dan
mencium tangan ayah.
“Waalaikum Salam warrahmatullahi wabarakatu, sok kade
dijalanna. Ulah ngebut” (Hati hati dijalanya, jangan ngebut) Ucap ayah saya
seperti memberikan amanat kepada anaknya.
Saya pun melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah
Yoesma.
Sesampainya dirumah Yoesma. Saya pun di suruh Yoesma untuk
menjemput Zam zam karena Zam zam tidak ada yang mengantar karena motornya
dipakai kakanya. Sedangkan Yoesma akan membeli nasi timbel, karena dirumahnya
tidak ada siapa siapa dan tidak ada yang masak.
Saya pun lupa membawa nasi untuk makan selama liburan, tapi
jika beli takut uang tidak cukup untuk jajan dan yang lainnya, gtapi untungnya
motor saya akan di isi bensin oleh Wisnu, karena Wisnu aka dibonceng oleh saya.
Sehingga uang bensin tidak dikeluarkan. Saya pun pergi kerumah Zam zam, yang
telah diberitahu oleh Yoesma keberadaanya.
Sesampainya dilokasi rumah Zam zam, akhirnya Zam zam keluar
dengan ditemani ibunya, dan ibu Zam zam seperti ibu saya. Sama memiliki profesi
menjadi kepala sekolah. Zam zam pun pamitan dengan ibunya dan langsung naik
motor, selama diperjalan kami saling mengobrol tentang segala hal hingga kami
bisa akrab.
Setelah sampai di rumah Yoesma, kami berempat pun berdiskusi
tentang tujuan liburan yang dekat epic dan yang jelas murah. Akhirmya secara
spontan kami mengatakan Gunung Papandayan. Akhirnya kami empat pemuda berangkat
ke Gunung Papandayan untuk mengisi waktu libur meski dadakan tetapi kami yakin
akan menjadi liburan yang menyenangkan.
Petualangan di dunia lain
Selama di perjalanan, kami disuguhkan dengan keindahan
keindahan yang begitu eksotis. Banyak pohon cemara dan pinus yang menjulang
tinggi, hutan yang daunnya telah menjadi berwarna kekuningan layaknya musim
kemarau di Eropa dan jalanan yang teramat bagus dengan belokan yang seperti
sirukit di ajang Moto GP. Kami berfirik
bahwa liburan hari ini akan terasa menyenangkan ditambah lagi bahwa pergi ke
Hutan Mati Gunung Papandayan merupakan liburan saya pertama kali.
Perjalanan kami menuju Hutan Mati Gunung Papandayan tidak semudah membalikan telur mata ikan dalam wajan penggorengan. Kami harus dihadapkan dan disuguhkan dengan begitu banyak rintangan dan tantangan. Terdapat 4 gerbang yang harus kami lalui. Gerbang pertama adalah tempat membayar tiket masuk dan menjadi gerbang yang sangat menyeramkan. Karena disana kami harus menumbalkan sesuatu yang sangat berharga dari dompet yaitu uang. Namun, yang namanya tumbal pasti akan ditebus juga dengan sesuatu yang bernilai sama. Kenapa juga harus dinamakan tumbal, baik tapi membayar uang tiket masuk. Gerbang kedua adalah musuh terbesar dari para bangsa pegguna kursi roda yaitu tangga. Tapi, bukan tangga nama grup band yah dan bukan tangga tokoh film AADC (itu Rangga).
Mungkin perlu menjadi keluhan juga kepada pengelola untuk menyediakan lift atau escalator seperti di mal mal kebanyakan sehingga para bangsa pengguna kursi roda dapat menikmati keindahan Gunung Papandayan. Baiklah, selanjutnya gerbang ketiga yaitu jalanan yang begitu terjal. Perlu pembaca ketahui, bahwa kami pergi liburan ke Gunung Papandayan terjadi pada tahun 2016 yang pengelolanya masih dibawah pemerintah bukan seperti sekarang yang pengelolanya adalah swasta. Jadi, tak heran juga jika sarana dan prasarana masih belum mencukupi termasuk batuan terjal yang harus dilalui, tapi sekarang jalanan sudah bisa di akses dengan mudah.
Seperti di dalam video game kami harus fokus dan teliti dalam memijakan telapak kaki. Jangan sampai kita terkecoh dengan batu yang terlihat keras eh ternyata batunya licin atau itu hanya gumpulan lumpur yang dapat membuat sepatu malah menjadi kotor atau terhisap seperti pasir penghisap di Film The Mummy.
Selesai dari jalanan yang terjal oleh batu sampai lah kami di Gerbang keempat yaitu pusat perbelanjaan. Aneh memang nama gerbang ini, namun aneka pernak pernik, oleh oleh, makanan, gorengan, minuman, warkop semuanya ada disini. Namun, kami memilih untuk berisitirahat sejenak dan sembari bersua selfie. Matahari tengah berada ditengah ubun ubun kepala dan hembusan angin mengatakan untuk melanjutkan perjalanan ini.
Kami pun beranjak pergi dari tempat itu karena jika terlalu lama yang ada banyak tumbal dari dompet. Akhirnya kami telah sampai di tempat yang menjadi destinasi para wisata yaitu kawah Gunung Papandayan. Aroma bau yang khas, cuaca yang begitu panas saat itu dan kawah yang begitu indah, hasil dari letusan Gunung Papandayan. Semua ini menjadi paket komplit liburan kami.
Tak terasa selama kami disana yang dihabiskan dengan bersua foto awan kelabu datang hembusan angin dingin menghampiri. Sepertinya akan terjadi hujan yang begitu lebat. Namun, ada spot yang belum kami kunjungi yaitu Hutan Mati. Dimana menjadi tempat untuk para Hiking membangun tenda bukan membangun rumah tangga. Sehingga kami melanjutkan perjalanan meski ditengah perjalanan kami diguyur dengan hujan yang lebat. Taka da jas hujan, taka da paying yang menenmani hanya tekad dan keinginan kuat untuk bisa sampai ke Hutan Mati Gunung Papandayan.
Kami seperti ikan yang melawan arus sungai, ketika ikan yang lain mengikuti arus sungai untuk bisa berteduh dan pulang kami malah memberanikan diri untuk pergi ke Hutan Mati Gunung Papandayan. Kurang lebih, 15 Menit kami melangkah tak terasa akhirnya kami telah sampai di Hutan Mati Gunung Papandayan dan menjadi tempat yang begitu eksotis di wisata Gunung Papandayan.
Kami layaknya di hipnotis untuk bisa datang ke tempat sini karena keindahannya yang begitu eksotis. Semua kelelahan, kecapean, rasa dingin terbayar sudah di tempat ini. Namun, disana kami merasakan hal hal yang begitu aneh seperti anjing liar berkeliaran, suara teriakan yang entah dari mana asalnya, hawa dingin yang menembuh baju dan pohon tinggi yang menyeramkan. Kami seperti berada di dunia yang bukan dunia dan menamainya dunia lain. Selain tidak adanya sinyal telepon disini baterai kami pun habis dan tidak bisa berfoto di tempat ini.
Namanya juga Hutan Mati pasti akan ada mitos yang berkembang
di tengah masyarakat seperti orang yang pernah mati atau bunuh diri di tempat
ini sehingga menambah kesan yang begitu mistis. Tapi bagi para pengagum
keindahan alam ini adalah hutan yang memiliki banyak pohon yang menjulang
tinggi dan tidak memiliki daun daunan seperti hutan yang telah terbakar.
Akhir dari perjalanan ini kami
harus mengaku kalah, bukan oleh hawa yang dingin, bukan tempat yang menakutkan,
bukan juga baterai hp yang habis tapi perut kami yang lapar sehingga kami harus
pulang. Biarlah, Hutan Mati Gunung Papandayan akan menjadi saksi bisu keindahan
begitu eksotis yang tersembunyi di Gunung Papandayan.
Penutup
Sekian perjalanan yang dapat
saya ceritakan tentang Hutan Mati Gunung Papandayan, itu murni saya rasakan
bukan orang lain, jadi. Tidak dilebih lebihkan ataupun dikurang kurani. Saya
berharap pembaca mengerti dari tulisan ini. Namun, apabila penasaran silahkan
untuk berkunjung langsung ke tempatnya dan jangan lupa bawa makanan yang banyak
karena jika membeli makanan disana sangatlah mahal. Jaga keindahan dan
kebersihan Gunung Papandayan jangan sampai membuang sampah sembarangan. Terima
kasih selamat berpetualang!
Tentang penulis
Fawwaz Zulfiqar Aziz mulai tertarik menulis saat usianya beranjak 20 tahun. Meski masih pemula dalam menulis sebuah tulisan jurnalistik. Beliau sudah membuat blog pribadi di sosial media yang memuat pemikirannya yang ditungakan dalam sebuah halaman di blog pribadinya tersebut. Sehingga meski dikatakan masih pemula tetapi kecintaanya terhadap menulis tidak ada hentinya. Tahun 2020 ini beliau akan menulis buku yang berjudul Kelam(Kenangan Terdalam) sebagai buku auotibiografinya kedua setelah buku Hidup Tak Seindah Senja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar