Selasa, 25 Mei 2021

Eksotisnya Hutan Mati Gunung Papandayan

 

Prakata Penulis



Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan feature perjalanan wisata ini. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan feature ini dengan baik. Shalawat beserta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Habibana Wanabiyana Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti. 

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga feature perjalanan wisata yang berjudul “Eksotisnya Hutan Mati Gunung

Papandayan ” ini mampu untuk di selesaikan. Feature ini bertujuan memberikan sebuah pengalaman berwisata ke salah satu objek wisata di Kabupaten Garut yang berada di Kecamatan Cisurupan dan menjalani tempat wisata yaitu Hutan Mati Gunung papandayan. Kami juga megucapkan banyak-banyak terima kasih kepada dosen Jurnalisme Sastra pa Feri Purnama M.Sos., yang telah  memberikan materi dan pemahaman mengenai

Jurnalisme Sastra dalam pembahasan saat kuliah maupun di luar jam kuliah . Selain itu, terimakasih pula kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penulisan feature sederhana ini.

Penulis tentu menyadari bahwa feature ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca , supaya feature nantinya dapat menjadi feature yang lebih baik lagi. Demikian, semoga feature ini dapat bermanfaat dan berguna. Terima kasih. 

 

 

Penulis

 

Fawwaz Zulfiqar Aziz


Eksotisnya Hutan Mati Gunung Papandayan

Namanya memanglah seram dan kelam Hutan Mati. Namun, dari namanya yang seram bak alam yang tersembunyi mistis terdapat suguhan pesona yang indah memberikan kesan begitu eksotis. Hembusan angin dingin menyelimuti, gerimis air hujan membasahi ditengah ribuan pohon yang tinggi. 

Dua kesan menjadi satu antara indah dan sunyi. Menatap langit yang begitu tebal dan awan kelabu, menatap tanah yang putih layaknya pasir di pantai dan aroma kawah yang khas menusuk penciuman . Itulah perjalanan menuju Hutan Mati yang begitu epik. 

Jika dunia fantasi itu hadir dibumi ini, maka Hutan Mati adalah bagiannya. Suguhan alam indah yang terus menyambut dan menemani, bukanlah rekayasa bukanlah settingan ini adalah Takdir yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk hamba Nya agar selalu mensyukuri ciptaan-Nya. 

Inilah Hutan Mati Gunung Papandayan, meski mati hutannya tapi hidup namanya akan rasa syukur yang terus dipanjatkan. 

 

Empat Pemuda Bersama Liburan Dadakannya.

Tak terasa libur sekolah telah usai dan hati berkata “Kamu belum puas menikmati liburan perlu adanya sebuah klimaks sehingga liburan sekolah ini begitu epik dan menyenangkan”. Ternyata bukan hanya hati saya yang berkata begitu tapi hati sahabat saya pun mengatakan seperti itu. 

Kami adalah empat pemuda yang mengisi waktu libur sekolah bersama. Pertama, Yoesma seorang pemuda yang kaya dan manja. Kedua, Wisnu seorang pemuda yang tinggal dikos dekat sekolah. Asal rumahnya dari Pamengpeuk atau biasa disebut Garut Selatan memiliki perawakan tinggi dan tegap, maklumlah rumah dekat dengan pantai sehingga tak jarang setiap hari bisa renang. Ketiga, Zam zam seorang pemuda yang memiliki tubuh yang kurang tinggi. Keempat, saya sendiri Fawwaz memiliki tubuh kecil namun diantara yang lain sayalah yang paling tinggi. Kami berempat sering dipanggil pemuda bukan anak anak karena semangat kami sama dengan pemuda yang haus akan sebuah tantangan dan petualangan. 

 Suara ayam berkokok di pagi yang cerah di hari Minggu, saya menghangatkan motor beranjak akan pergi dari rumah untuk bertemu teman. 

 “Waz, bade kamana enjing keneh atos ngahaneutan motor?”  kalau dalam bahasa Indonesia (Waz, mau kemana pagi hari sudah menghangatkan motor). Ucap Ayah sambil bingung.  

“Bade ka bumi Yoesma” (mau ke rumah Yoesma). Jawab saya sembari menghidupkan motor. “Muhun, kade dijalanna” (Oke, hati-hati dijalannya). Ucap ayah sambil melanjutkan minum kopi di teras rumah. Saya pun berangkat ke rumah Yoesma dengan menaiki sepeda motor dan tak lupa mengucapkan salam agar diberikan keselamatan selama diperjalanan.  

 Sesampainya di rumah Yoesma, saya memparkirkan motor dihalaman depan dan beranjak mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Tok tok tok (Suara ketukan pintu) 

“Assalamu’alaikum Yoesma” 

Akhirnya pintu terbuka, dan yang membuka bukanlah Yoesma atau keluarga yang lain. 

Ternyata yang membuka pintu adalah Wisnu. 

“Waalaikum Salam warrahmatullahi wabarakatu “Jawab wisnu  

Saya pun terheran dengan keberadaan Wisnu yang keluar membukakan pintu rumah Yoesma. 

“Walah, naha aya Wisnu?” (Walah, kenapa ada Wisnu?) Ujar saya sambil terheran. 

“Kamari weungi Waz, abdi diajakan ku Yoesma mondok, kumargi Yoesma teu aya batur kanggo maen PS, Barinage di kost wae mah bete” (Kemarin malam Waz, saya diajak oleh Yoesma menginap, soalnya Yoesma tidak ada teman untuk main PS, lagipula kalau di kost terus bete ). 

 

Jawab Wisnu menjelaskan alasannya menginap. 

“Oh kitu, Yoesma na dimana?”(Oh gitu, Yoesma nya dimana?) Ucap saya kepada Wisnu  sambil melepas sandal.  

“Yoesma masih bobo, maklum kamari weungi begadang maen PS, manga kalebet” (Yoesma masih  tidur, maklum kemarin malam begadang main PS, silahkan masuk) Jawab Wisnu sambil membukakan pintu kepada saya.  

Pada hari itu keluarga Yoesma seperti ayah dan ibunya tidak sedang ada dirumah. Meraka sedang mengunjungi kerabatnya diluar. Jadi hanya ada Yoesma didalam rumah bersama Wisnu. 

Saya    pun      masuk ke        kamar Yoesma           dan membangunkannya. 

‘Yoesma, gugah atos siang “(Yoesma, bangun sudah siang)” Ucap saya sambil berteriak agar Yoesma bangun.   “Eummm” Jawab Yoesma hanya bergumam seperti suara badak. 

“Ongkoh hoyong liburan, soalna enjing atos masuk sakola deui” (Katanya mau liburan, soalnya besok sudah masuk sekolah lagi). Ujar saya sambil membujuknya bangun. 

Yoesma pun seketika bangun dengan cepat dan mengatakan.  

“Hayu atuh liburan bete yeuh” (Ayo liburan, bete nih). Jawab Yoesma dengan semangat meski masih ada kotoran dipinggir matanya dan rambut yang acak-acakan seperti singa.  

“Gera ka cai hela tamas, ngarah seger” (Cepat ke kamar mandi dulu, cuci muka dulu biar segar” Ujar Wisnu dari belakang saya. 

Setelah Yoesma mencuci mukanya, kami mengobrol dan saling bertukar pengalaman mengenai liburan sekolah. Kami bertiga adalah teman satu kelas. Jadi sudah akrab meski baru 1 semeter juga. Tak terasa liburan pun akan usai dan besok masuk sekolah lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk liburan bersama dan menjadikannya penutup untuk liburan sekolah selama 2 Minggu.  

Ini bisa dibilang liburan dadakan karena tanpa adanya rencana sebelumnya. Namun, jika liburan ini hanya bertiga rasanya akan kurang, karena akan ada 1 oramg yang membonceng dengan angina atau jok belakang motor nya kosong apakah milik saya atau Yoesma.

Hingga Yoesma mengajak temannya melalui telepon.  

“Asslamualaikum” Ucap Yoesma kepada Zam zam melalui telepon. 

“Waalaikum Salam warrahmatullahi wabarakatu, Kumaha Yus aya periyogi naon nganelpon? (Gimana yus, ada keperluan apa menelpon?) Jawab Zam zam dalam telepon. 

“Jadi kieu, kan enjing teh atos masuk deui sakola, kumaha lamun urang ayeuna liburan terakhir kaburu otak kudu diasah deui, setidaknya arurang refreshing hela lah “(Jadi begini, besok tuh sudah masuk sekolah lagi, gimana jika sekarang liburan terakhir keburu besok otak harus diasah lagi, setidaknya kita refreshing dulu lah” Ujar Yoesma membujuk Zam zam supaya bisa ikut. 

“Oh hayu. Tapi kumaha nya, abdi mah bakal moal tiasa nyandak motor, soalna bakal dianggo ku teteh. Emang sareng saha wae liburana?” (Oh ayo. Tapi gimana yah, saya gak akan bawa motor, soalnya akan dipakai sama kaka, emannya sama siapa saja liburannya?). Jawab Zam zam sembari kebingungan. 

“Tenang zam, wios dibonceng weh. Liburanna aya Abdi, Fawwaz, Wisnu sareng Zam zam weh hiji deui “(tenang zam, gapapa dibonceng saja, liburannya ada saya,

Fawwaz, Wisnu dan Zam zam satu lagi.” Jawab Yoesma sambil memegang handphone dan mondar mandir. 

“Oh siap, jemput” Ujar Zam zam yang bersemangat. 

“Oke, ke dikabaran, Assalamualaikum” Ucap Yoesma 

“Waalaikum Salam warrahmatullahi wabarakatu” Jawab Zam zam. 

Akhirnya Zam zam pun ikut bergabung bersama kami untuk liburan. 

 Mentari semakin lama semakin menyinari, terangnya membuat kami berfikir bahwa liburan ini akan menjadi liburan yang menyenagkan dan akan membuat klimaks terbaik sebagai penutup liburan diawal semester. 

Saya pun bergegas pulang kembali kerumah untuk mempersiapkan liburan, meski tidak tahu akan pergi kemana yang jelas difikiran saya adalah hari ini libur, hari ini harus menyenangkan dan bagaimana caranya liburan ini harus membuat hati puas. Sesampainya dirumah, ternyata rumah sepi tidak ada siapa siapa. “Sunyi sekali”. Ucap saya, tapi bodo amat saya harus mandi dan bergegas untuk mencari pakaian yang akan digunakan untuk liburan. 

Tapi saya hanya focus pada penampilan, hingga saya tak menyadari bahwa saya tak punya uang untuk liburan. Disana saya bingung dan harus bagaimana, akhirmya saya menunggu ayah pulang dari kerja sambil mandi dan mempersiapkan yang lain sebagainya.  

Hampir 2 jam saya menunggu, mentari sudah hampir ditengah dan kami janjian untuk berangkat pada siang hari dan kumpul di rumah Yoesma, selepas waktu pertama Dzuhur. Kumandang Adzan terdengar tatapi ayah tidak kunjung pulang, akhirnya saya sholat dulu, semoga saja setelah beres Sholat ayah sudah pulang. Tinggal beberapa menit lagi berangkat tapi ayah masih saja belum pulang, Saya pun pergi tanpa membawa uang sepeser pun untuk liburan, dan berharap Yoesma bisa meminjamkan uangnya kepada saya.  

Saat diperjalanan menuju ke rumah Yoesma, saya pun bertemu dengan ayah yang sedang mengendarai motor.  

Saya pun berteriak “Yahhhh, eureun helaaaa” (Yahhhhh, berhenti dulu). 

Ayah pun menghentikan motornya dan menjawab “Aya naon Waz, gogorowokan di jalan?” (Ada apa Waz, teriak teriak dijalan) 

“Nyungken artos, abdi ayena bade liburan”. (Minta uang, saya sekarang mau liburan) Ujar saya sambil mengangkat tangan layaknya pengemis. 

“Liburan kamana?” (Liburan kemana?) Tanya ayah saya yang bingung. 

“Teu apal nu penting mah liburan” (Tidak tahu yang penting liburan) Jawab saya yang sama bingung tapi yang rusuh takut telat. 

“Yeuh gaduh 20 rebu, sok sing awet” Ujar ayah saya sambil memberikan uang. 

“Hatur nuhun. Abdi mios hela, Assalamualaikum” (Terimakasih. Saya berangkat dulu, Assalamualaikum) Ujar saya sambil menerima uang dan mencium tangan ayah. 

“Waalaikum Salam warrahmatullahi wabarakatu, sok kade dijalanna. Ulah ngebut” (Hati hati dijalanya, jangan ngebut) Ucap ayah saya seperti memberikan amanat kepada anaknya.  

Saya pun melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah Yoesma. 

Sesampainya dirumah Yoesma. Saya pun di suruh Yoesma untuk menjemput Zam zam karena Zam zam tidak ada yang mengantar karena motornya dipakai kakanya. Sedangkan Yoesma akan membeli nasi timbel, karena dirumahnya tidak ada siapa siapa dan tidak ada yang masak. 

Saya pun lupa membawa nasi untuk makan selama liburan, tapi jika beli takut uang tidak cukup untuk jajan dan yang lainnya, gtapi untungnya motor saya akan di isi bensin oleh Wisnu, karena Wisnu aka dibonceng oleh saya. Sehingga uang bensin tidak dikeluarkan. Saya pun pergi kerumah Zam zam, yang telah diberitahu oleh Yoesma keberadaanya.  

Sesampainya dilokasi rumah Zam zam, akhirnya Zam zam keluar dengan ditemani ibunya, dan ibu Zam zam seperti ibu saya. Sama memiliki profesi menjadi kepala sekolah. Zam zam pun pamitan dengan ibunya dan langsung naik motor, selama diperjalan kami saling mengobrol tentang segala hal hingga kami bisa akrab. 

Setelah sampai di rumah Yoesma, kami berempat pun berdiskusi tentang tujuan liburan yang dekat epic dan yang jelas murah. Akhirmya secara spontan kami mengatakan Gunung Papandayan. Akhirnya kami empat pemuda berangkat ke Gunung Papandayan untuk mengisi waktu libur meski dadakan tetapi kami yakin akan menjadi liburan yang menyenangkan.  

 

Petualangan di dunia lain   

Selama di perjalanan, kami disuguhkan dengan keindahan keindahan yang begitu eksotis. Banyak pohon cemara dan pinus yang menjulang tinggi, hutan yang daunnya telah menjadi berwarna kekuningan layaknya musim kemarau di Eropa dan jalanan yang teramat bagus dengan belokan yang seperti sirukit di ajang Moto GP. Kami  berfirik bahwa liburan hari ini akan terasa menyenangkan ditambah lagi bahwa pergi ke Hutan Mati Gunung Papandayan merupakan liburan saya pertama kali. 

Perjalanan kami menuju Hutan Mati Gunung Papandayan tidak semudah membalikan telur mata ikan dalam wajan penggorengan. Kami harus dihadapkan dan disuguhkan dengan begitu banyak rintangan dan tantangan. Terdapat 4 gerbang yang harus kami lalui. Gerbang pertama adalah tempat membayar tiket masuk dan menjadi gerbang yang sangat menyeramkan. Karena disana kami harus menumbalkan sesuatu yang sangat berharga dari dompet yaitu uang. Namun, yang namanya tumbal pasti akan  ditebus juga dengan sesuatu yang bernilai sama. Kenapa juga harus dinamakan tumbal, baik tapi membayar uang tiket masuk. Gerbang kedua adalah musuh terbesar dari para bangsa pegguna kursi roda yaitu tangga. Tapi, bukan tangga nama grup band yah dan bukan tangga tokoh film AADC (itu Rangga). 

Mungkin perlu menjadi keluhan juga kepada pengelola untuk menyediakan lift atau escalator seperti di mal mal kebanyakan sehingga para bangsa pengguna kursi roda dapat menikmati keindahan Gunung Papandayan. Baiklah, selanjutnya gerbang ketiga yaitu jalanan yang begitu terjal. Perlu pembaca ketahui, bahwa kami pergi liburan ke Gunung Papandayan terjadi pada tahun 2016 yang pengelolanya masih dibawah pemerintah bukan seperti sekarang yang pengelolanya adalah swasta. Jadi, tak heran juga jika sarana dan prasarana masih belum mencukupi termasuk batuan terjal yang harus dilalui, tapi sekarang jalanan sudah bisa di akses dengan mudah. 

Seperti di dalam video game kami harus fokus dan teliti dalam memijakan telapak kaki. Jangan sampai kita terkecoh dengan batu yang terlihat keras eh ternyata batunya licin atau itu hanya gumpulan lumpur yang dapat membuat sepatu malah menjadi kotor atau terhisap seperti pasir penghisap di Film The Mummy. 

Selesai dari jalanan yang terjal oleh batu sampai lah kami di Gerbang keempat yaitu pusat perbelanjaan. Aneh memang nama gerbang ini, namun aneka pernak pernik, oleh oleh, makanan, gorengan, minuman, warkop semuanya ada disini. Namun, kami memilih untuk berisitirahat sejenak dan sembari bersua selfie.  Matahari tengah berada ditengah ubun ubun kepala dan hembusan angin mengatakan untuk melanjutkan perjalanan ini. 

Kami pun beranjak pergi dari tempat itu karena jika terlalu lama yang ada banyak tumbal dari dompet. Akhirnya kami telah sampai di tempat yang menjadi destinasi para wisata yaitu kawah Gunung Papandayan. Aroma bau yang khas, cuaca yang begitu panas saat itu dan kawah yang begitu indah, hasil dari letusan Gunung Papandayan. Semua ini menjadi paket komplit liburan kami.

 Tak terasa selama kami disana yang dihabiskan dengan bersua foto awan kelabu datang hembusan angin dingin menghampiri. Sepertinya akan terjadi hujan yang begitu lebat. Namun, ada spot yang belum kami kunjungi yaitu Hutan Mati. Dimana menjadi tempat untuk para Hiking membangun tenda bukan membangun rumah tangga. Sehingga kami melanjutkan perjalanan meski ditengah perjalanan kami diguyur dengan hujan yang lebat. Taka da jas hujan, taka da paying yang menenmani hanya tekad dan keinginan kuat untuk bisa sampai ke Hutan Mati Gunung Papandayan. 

Kami seperti ikan yang melawan arus sungai, ketika ikan yang lain mengikuti arus sungai untuk bisa berteduh dan pulang kami malah memberanikan diri untuk pergi ke Hutan Mati Gunung Papandayan. Kurang lebih, 15 Menit kami melangkah tak terasa akhirnya kami telah sampai di Hutan Mati Gunung Papandayan dan menjadi tempat yang begitu eksotis di wisata Gunung Papandayan.

 Kami layaknya di hipnotis untuk bisa datang ke tempat sini karena keindahannya yang begitu eksotis. Semua kelelahan, kecapean, rasa dingin terbayar sudah di tempat ini.  Namun, disana kami merasakan hal hal yang begitu aneh seperti anjing liar berkeliaran, suara teriakan yang entah dari mana asalnya, hawa dingin yang menembuh baju dan pohon tinggi yang menyeramkan. Kami seperti berada di dunia yang bukan dunia dan menamainya dunia lain. Selain tidak adanya sinyal telepon disini baterai kami pun habis dan tidak bisa berfoto di tempat ini. 

Namanya juga Hutan Mati pasti akan ada mitos yang berkembang di tengah masyarakat seperti orang yang pernah mati atau bunuh diri di tempat ini sehingga menambah kesan yang begitu mistis. Tapi bagi para pengagum keindahan alam ini adalah hutan yang memiliki banyak pohon yang menjulang tinggi dan tidak memiliki daun daunan seperti hutan yang telah terbakar. 

Akhir dari perjalanan ini kami harus mengaku kalah, bukan oleh hawa yang dingin, bukan tempat yang menakutkan, bukan juga baterai hp yang habis tapi perut kami yang lapar sehingga kami harus pulang. Biarlah, Hutan Mati Gunung Papandayan akan menjadi saksi bisu keindahan begitu eksotis yang tersembunyi di Gunung Papandayan. 

 

 

 

 

Penutup

Sekian perjalanan yang dapat saya ceritakan tentang Hutan Mati Gunung Papandayan, itu murni saya rasakan bukan orang lain, jadi. Tidak dilebih lebihkan ataupun dikurang kurani. Saya berharap pembaca mengerti dari tulisan ini. Namun, apabila penasaran silahkan untuk berkunjung langsung ke tempatnya dan jangan lupa bawa makanan yang banyak karena jika membeli makanan disana sangatlah mahal. Jaga keindahan dan kebersihan Gunung Papandayan jangan sampai membuang sampah sembarangan. Terima kasih selamat berpetualang! 

 

 

 

 

Tentang penulis








Fawwaz Zulfiqar Aziz mulai tertarik menulis saat usianya beranjak 20 tahun. Meski masih pemula dalam menulis sebuah tulisan jurnalistik. Beliau sudah membuat blog pribadi di sosial media yang memuat pemikirannya yang ditungakan dalam sebuah halaman di blog pribadinya tersebut. Sehingga meski dikatakan masih pemula tetapi  kecintaanya terhadap menulis tidak ada hentinya. Tahun 2020 ini beliau akan menulis buku yang berjudul Kelam(Kenangan Terdalam) sebagai buku auotibiografinya kedua setelah buku Hidup Tak Seindah Senja.  

 

 

 

 

 




DRAMATURGI PRAMUKA DI TENGAH PANDEMI

 “Sebuah kisah pramuka yang ditulis di tengah Pandemi Covid-19”



Pada dewasa ini seluruh dunia dihadapkan dengan suatu permasalahan yang sangat serius yaitu virus corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Virus yang mematikan ini tidak hanya berdampak dibidang kesehatan saja, tapi seluruh bidang baik ekonomi, sosial, budaya, bahkan pendidikan. Bahkan saking bahaya dan mematikannya virus ini, WHO (World Health Organization) menginformasikan kepada seluruh dunia bahwa virus ini menjadi pandemic dan menamainya dengan Pandemi Covid-19.

Di Indonesia sudah hampir tahun kedua Pandemi Covid-19, langkah demi langkah telah pemerintah lakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, mulai dari penyemprotan disinpektan kepada seluruh lingkungan, penerapan sosial berskla besar (PSBB), menerapkan protokol kesehatan 3M: Mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak dan memakai masker, menutup dan memberhentikan tempat yang memicu kerumunan dan lain sebagainya. Melalui langkah tersebut, hasilnya korban pandemi tetap saja bertambah.

Di tengah buruknya situasi dan kondisi saat ini, masyarakat di seluruh dunia diberikan suatu harapan tentang vaksinasi virus Covid-19 yaitu cara untuk mempertahankan imun di tubuh, supaya mendapat kekebalan dari ancaman virus yang menyerang khususnya virus corona. Vaksinasi di Negara Indonesia masih dalam tahap proses. Belum seluruh lapisan masyarakat menerimanya baru tenaga medis, wartawan, lansia, tenaga pendidik dan lainnya. Sehingga perataan dari vaksinasi masih dikatakan belum merata ke seluruh lapisan masyarakat.

Selain itu, Di tengah pandemi covid-19 ini, bidang pendidikan mengalami dampak yang sangat besar. Pasalnya kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara tatap muka langsung diubah menjadi jarak jauh dengan menggunakan teknologi atau dalam jaringan (daring). Sehingga pembelajaran yang biasanya dilaksanakan di kelas, akhirnya dilaksanakan melalui gadget nya masing-masing.

Sehingga runtutan dari awalnya sebuah virus sampai ke pembelajaran menjadikan ini menjadi sebuah kisah, dimana semua orang memiliki perannya masing-masing dalam melaksanakan suatu kehidupan meski di tengah pandemi covid-19 ini dan peran yang saya ambil adalah Pramuka atau Praja Muda Karana (pemuda-pemudi yang selalu berkarya).

Seorang Pramuka memiliki sikap dan sifat yang sangat mulia, dilihat dari dasa dharma nya membuat anggota pramuka memiliki kemampuan diatas rata-rata. Namun, dihadapkan dengan pandemi saat ini, jiwa kepramukaan dari anggota memudar. Selain penerapan sosial berskala besar, aktivitas latihan yang dilaksanakan pun kian jarang bahkan tidak ada. Meski Kementerian pendidikan mengintruksikan kepada seluruh instansi pendidikan menggunakan teknologi internet untuk kegiatan belajar mengajar. Namun, bagi anggota pramuka itu merupakan hal yang sulit dicerna dan dipahami. Karena kegiatan pramuka lebih didominasi dengan kegiatan di alam terbuka dan bersama sama dengan anggota yang lainnya.

Kegiatan belajar mengajarnya dibatasi apalagi kegiatan ekstrakuliernya, sehingga dampak ke siswa pun menjadi menurun, akibatnya moral dan etika yang menurun membuat siswa mengalami sifat malas, kurang bergaul dan lebih suka menghabiskan waktu bermain dengan gadgetnya daripada temannya.

Setiap orang memiliki perannya masing-masing di dalam suatu kehidupan layaknya drama atau teater. Dalam teori komunikasi Dramuturgi menyebutkan bahwa kita semua layaknya memainkan peran untuk melakukan interaksi sosial seperti dalam suatu teater hingga kita menemukan suatu jawaban dan tujuan dari kisah teater tersebut.

Pramuka sebagai agen perubahan dituntun untuk selalu melakukan inovasi-inovasi untuk menyelasikan suatu masalah, baik untuk dirinya ataupun orang lain. Sehingga pramuka memiliki peranan yang sangat penting dalam menyelesaikan masalah moral dan etika di masyarakat khusunya siswa.

Untuk itu, yang menjadi masalah adalah bagaimana seorang pramuka mengembalikan moral dan etika yang baik kepada semuanya? Jawabanya adalah dengan melakukan edukasi. Edukasi adalah memberikan pemahaman dan pengetahuan. Kita sebagai pramuka memberikan pemahaman dan pengetahuan yang baik kepada siswa. Memberikan ilmu tentang hal-hala yang harus dilakukan saat pandemi, menumbuhkan sifat nasionalisme dan patriotisme dan lain sebagainya.

Namun, apakah hal tersebut dapat membuat siswa merasa nyaman? Masih soal pramuka, karena pramuka dituntun untuk memiliki sikap yang ceria untuk itu berikan edukasi yang membuat siswa nyaman dengan menambahkan permainan dan lagu-laguan selama mengedukasi. Baik kegiatan edukasi dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung. Tetapi pramuka memiliki ciri khas dalam menyampaikan materi, yaitu dengan menambahkan permainan yang menyenangkan.

Terakhir, seorang Pembina pramuka harus kreatif dan inovatif dalam mengajarkan anggota pramuka untuk melakukan edukasi kepada yang lainnya. Karena anggota yang sukses cerminan dari pembinanya. Intinya kegiatan pramuka harus terus dilaksanakan, tapi tetap menerapkan protokol kesehatan selama melaksanakan latihan dan kegiatan. Supaya diberikan kesehatan dan kelancaran. Terimakasih.

Jangan "Baper" Terhadap Tayangan Televisi

 


Pada dewasa ini, tayangan yang disampaikan oleh media elektronik televisi sangatlah berpengaruh besar terhadap khalayak luas. Timbulnya Emosional yang hadir dari para pemirsa merupakan hal yang sangat sering kita lihat dan rasakan saat ini. Sehingga informasi dan acara yang disuguhkan oleh media televisi sangat berperan besar dalam merubah watak, perilaku juga sikap bagi penonton atau pemirasanya.

Mengacu pada teori Kultivasi bahwa media elektronik televisi merupakan media yang memberikan informasi dengan tayangan audio-visual yang membuat konsumen menganggap bahwa tayangan tersebut nyata (real). Sehingga, implementasi yang disampaikan, jika tayangan tersebut mengenai kejadian kekerasan seperti pembunuhan meski hanya dalam acara sinetron atau rekayasa sekalipun, pemirsa akan menganggap bahwa hal tersebut merupakan hal yang nyata dan benar adanya.

Sering kita lihat di lingkungan masyarakat seperti ibu-ibu bahkan orang tua kita sendiri yang sangat emosional menonton sebuah tayangan televisi salah satunya tayangan drama dan sinetron yang membuatnya sangat emosional, seperti marah, sedih, kecewa bahkan  menangis sekalipun. Padahal tayangan tersebut hanyalah rekayasa, tayangan tersebut hanyalah fiksi belaka, mereka hanyalah aktor dan aktris yang memainkan peran sesuai arahan dan cerita untuk program acaranya. Jadi, yang menjadi masalah adalah bagaimana hal tersebut bisa terjadi?.

Dalam pemahaman Encoding-Decoding, Representatifnya adalah bahwa komunikator berusaha menyusun dan merencanakan suatu informasi yang akan diberikan kepada komunikan sehingga tujuan dari informasi tersebut bisa disampikan dan diterima dengan baik dan sesuai tujuan komunikator, misalnya ketika seorang sutradara program televisi yang ingin membuat adegan tersebut membuat penonton menangis. Maka sutradara harus bisa merencanakan hal tersebut dengan baik dengan dibantu pembuat ide, audio, visual, pemain yang sesuai dan lain sebagainya, maka adegan tersebut pun dapat dimengerti dan dipahami oleh penonton. Lalu, penonton akan memahami isi dari adegan tersebut karena selain isi informasinya, audio-visual yang mendukung bahkan pemain dalam program televise tersebut yang sangat menjiwai perannya membuat pemirsa beranggapan bahwa hal tersebut adalah nyata dan tujuan dari sutradara pun akan sukses sehingga mendapat keuntungan karena hasil dari pemirsa yang terhipnotis akan tayangan yang menjiwai dari segi emosional.

Sehingga, dari tulisan ini kita harus mempertimbangkan lagi dan memikirkan kembali bahwa semua tayangan yang disiarkan oleh media televisi itu tidaklah semua nyata dan benar. Ada yang nyata seperti tayangan pemberitaan da nada juga yang rekaya seperti sinetron. Sebagai mahasiswa Jurnalistik kita dituntut untuk mampu melakukan suatu kajian literasi media sehingga nantinya, kita bisa melakukan suatu pengamalan kepada masyarakat untuk bisa memberikan pemahaman dan pengertian bahwa tayangan televisi seperti drama atau sinetron tidaklah nyata, itu hanya rekayasa belaka seperti informasi dari awal tayangan yang memberikan informasi bahwa tayangan ini hanya rekayasa belaka dan jangan sampai terbawa perasaan (baper) supaya menjadi masyarakat yang bijak dalam mengkonsumsi media. Terimakasih