Minggu, 25 Agustus 2024

Pemimpin Hari Ini Adalah Pemuda Yang Berkarya Pada Masa Lalu (Bagian 23)

Karya Opini oleh Fawwaz Zulfiqar Aziz

Sebuah masyarakat yang sejahtera cenderung menghasilkan pemimpin yang juga sejahtera, dan sebaliknya, pemimpin yang sejahtera akan membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya. Inilah prinsip simbiosis mutualisme yang ideal antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya.

Namun, apakah hal ini sudah terwujud di negara kita? Apakah masyarakat kita sudah mencapai kesejahteraan? Ataukah hanya segelintir pemimpin atau penguasa yang merasakan makna kesejahteraan tersebut? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kesejahteraan berarti aman, selamat, dan terbebas dari masalah. Mari kita introspeksi, apakah dalam kehidupan sehari-hari kita sudah merasa aman? Apakah kita sudah merasa selamat dan terbebas dari masalah? Kemungkinan besar jawabannya belum. Kita masih harus bertahan hidup dalam kondisi yang terasa dipaksakan.

Saat ini, kesenjangan semakin melebar; yang sejahtera semakin sejahtera, sementara yang menderita semakin menderita. Sistem kepemimpinan Trias Politica, yang seharusnya berfungsi dengan baik, justru menjadi lemah dan tidak berdaya akibat keserakahan segelintir penguasa yang lebih mementingkan diri sendiri daripada rakyatnya.

Oleh karena itu, seorang pemimpin idealnya berasal dari individu yang selalu dekat dengan Tuhan, memiliki pemahaman agama yang kuat, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan. Sikap ini dapat tercermin dari cara pemimpin berbicara.

Pemimpin yang dekat dengan Tuhan, ketika menghadapi musibah, tidak akan mengeluarkan kata-kata kasar, melainkan akan menyebut nama Tuhan. Dengan demikian, ketika menghadapi masalah, pemimpin tersebut mampu mengendalikan diri dan menyadari bahwa setiap masalah memiliki solusi, terutama jika hati dan pikiran tetap tenang serta berserah kepada Tuhan. Sebab, setiap masalah adalah bagian dari takdir yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tidak ada komentar: