Rabu, 31 Januari 2024

Pemimpin Hari Ini Adalah Pemuda Yang Berkarya Pada Masa Lalu (Bagian 17)

 Karya Opini Fawwaz Zulfiqar Aziz


Pesta demokrasi Pemilu 2024 tinggal  beberapa hari lagi, dengan asas LUBER dan JURDIL membuat pesta demokrasi harus benar-benar dinikmati dan disambut baik oleh rakyat Indonesia. Namun statement dari presiden tercinta kita, bapak Joko Widodo yang menyatakan bahwa presiden boleh berkampanye dan memihak kepada salah satu paslon, membuat rakyat bingung dan bimbang. Di akhir masa jabatannya, yang seharusnya memberikan kesan yang memorable baik, ini malah membuat kesan yang tidak enak bagi rakyatnya sendiri, khususnya saya sendiri sebagai penulis.

Dampak dari statement tersebut dapat dilihat dari menteri  kabinetnya yang terpecah belah, atmosfer rapat kabinet yang berbeda sampai pengunduran dari menteri yang sekaligus menjadi cawapres salah satu calon. Semoga dampak tersebut tidak merugikan negara apalagi rakyat, karena demokrasi harus berfokus pada hukum dan rakyat sebagai contoh dalam bentuk negara demokrasi.

Dari kejadian ini, pemimpin yang baik akan selalu meningkatkan kualitas kepemimpinannya sampai akhir nanti, terlihat dan terbukti juga dari kepemimpinan Presiden Jokowi yang selalu meningkatkan kualitas kepemimpinannya dalam memimpin dan mebangun negara kebangsaan Republik Indonesia, tidak ingin dianggap boneka partai, tidak ingin disebut sebagai presiden planga-plongo, dan presiden tol*l. Jokowi menunjukan itu semua kepada publik bahwa dirinya bukan orang lemah yang mudah dikontrol dan dipengaruhi oleh pihak lain. Bahkan Luhut atau biasa disebut Opung, menyebutkan bahwa 100 % orang tidak ada yang tahu sifat dan watak asli presiden kita. Karena menurut dirinya, bapak Jokowi sangatlah misterius.

Pemimpin yang baik tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi pemimpin yang baik harus memikirkan orang lain bahkan masa depan orang lain atau anggotanya. Sejatinya pemimpin yang baik itu akan bilang "saya tidak akan makan, sebelum anggota saya makan atau sudah makan". Jangan sampai kekuasaan, membutakan pemimpin sehingga menimbulkan sifat untuk membabi buta dan  mementingkan keinginan sendiri  dibandingkan orang banyak. Pemimpin harus adil dalam menentukan sikap, dengan catatan teguh dalam prinsip selagi prinsip yang dipegang itu baik dan tidak menyalahi aturan dan hukum. Baru akan dianggap pemimpin yang amanah dan adil dalam menentukan sikap selama memimpin. Ingat 14 Februari, kenali Paslon Capres, Cawapres dan Calegnya. Pantau track recordnya dan jangan sampai Golput. 

Kritik dan saran, bisa ditulisakan di kolom komentar. Terimakasih.
 

Tidak ada komentar: